Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Tanda-tanda Kebenaran Daulah Islam ISIS

Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Wal ‘izzatu lillahi wa li Rasulihi wal mukminin. Amma ba’du.

Kami mulai tulisan ini dengan beberapa pertanyaan berikut:

Mengapa di dunia ini boleh muncul negara agama, seperti Vatikan di Italia? Mengapa di dunia ini boleh berdiri negara liberal kapitalis seperti Amerika dan Uni Eropa? Mengapa di dunia ini boleh berdiri negara atheis komunis seperti China, Kuba, Korea Utara? Mengapa di dunia ini boleh berdiri negara nasionalis seperti Indonesia, Thailand, Filipina, Vietnam, dan seterusnya? Mengapa di dunia ini boleh berdiri negara kerajaan seperti Inggris, Malaysia, Denmark, Swedia, Spanyol, dan sebagainya? Mengapa di dunia ini boleh berdiri negara kerajaan/keemiran seperti Arab Saudi, UEA, Kuwait, Yordania, dan sebagainya? Mengapa di dunia ini boleh berdiri negara rasialis seperti Israel, Iran, Irak, (dulu) Afrika Selatan, dan sebagainya?

Negara-negara itu boleh berdiri di atas ideologi masing-masing, dengan wajah dan prinsip politiknya masing-masing. Namun mengapa di dunia ini tidak boleh berdiri NEGARA ISLAM(Daulah Islamiyah)? Ini sangat mengherankan. Ini adalah ketidak-adilan telanjang. Semua agama dan ideologi boleh punya negara, tapi Islam dilarang. Padahal Islam punya sejarah kenegaraan sangat panjang, melebihi semua ideologi-ideologi tersebut. Islam punya sejarah Kekhalifahan sekitar 1400 tahun lamanya.

Siapa yang Membenci Kebaikan Pasti pada Dirinya ada Keburukan
Siapa yang Membenci Kebaikan Pasti pada Dirinya ada Keburukan

Pertanyaan selanjutnya: Apakah tidak boleh kalau Umat Islam berusaha mendirikan kembali Negara Islami di tanah mereka? Tidak bolehkah kaum Muslimin mendirikan Daulah Islamiyah yang sesuai keyakinan dan ideologi Islaminya? Salahkah kalau generasi Islam masa kini ingin membangun lagi kejayaan peradabannya seperti di masa lalu? Orang atheis, komunis, kapitalis, Yahudi, Nashrani, sosialis, nasionalis, dan seterusnya boleh mendirikan negara, mengapa kaum Muslimin dilarang mendirikan Daulah Islamiyah sebagai impian dan harapan hidup?

Pertanyaan-pertanyaan ini perlu kami sampaikan terlebih dulu, sebelum kita masuk ke pembahasanDaulah Islamiyah fi Iraq wa Syam (ISIS). Jadi berdirinya ISIS adalah buah dari impian, harapan, dan perjuangan kaum Muslimin selama hampir satu abad, sejak runtuhnya Khilafah Turki Utsmani di Turki. Berbagai proyek penegakan Negara Islam sudah dilakukan, dan kini ia menjelma lebih kongkret dalam wujud Daulah Islamiyah di Irak dan Syam, yang dipimpin oleh Al Ustadz Al Amir Al Mujahid Abu Bakar Al Baghdadi hafizhahullah wa iyyana jami’an.

Kalau Amerika melarang berdirinya Daulah Islamiyah ini, maka pertanyaannya: Siapa yang membolehkan mereka mendirikan negara sekuler, kapitalis, liberalis di muka bumi?

Kalau Bani Saud penguasa Hijaz dan Najd melarang berdirinya ISIS, maka pertanyaannya: Mengapa mereka sejak lama tidak mendirikan Daulah Islamiyah tersebut? Mengapa mereka justru mendirikan kerajaan nasionalis Su’udiyah?

Kalau PBB melarang berdirinya ISIS, maka pertanyaannya: Mengapa mereka tidak melarang berdirinya negara Katholik Vatikan, negara Syiah Iran, negara atheis China, Kuba, Korea Utara, dan sebagainya?

Kalau para nasionalis Indonesia merasa sedih dan kecewa dengan berdirinya Negara Islam di Irak dan Suriah, maka pertanyaannya: Apakah Allah tidak kecewa ketika Anda mengotori bumi-Nya dengan negara nasionalis yang amburadul dan penuh kezhaliman seperti Indonesia selama ini?

Maka saudaraku yang budiman dan jujur…Anda harus legowo dengan pertolongan Allah akan bangkitnya Daulah Islamiyah di abad 21 ini. Semoga ini akan merintis jalan menuju bangkitnya Khilafah Islamiyah di muka bumi, setelah runtuhnya Turki Utsmani pada 1924 lalu. Amin Allahumma amin.

Kami menyerukan kepada para Habaib, khususnya Habib Rieziq Shihab, para aktivis dan pendukung FPI, untuk mendukung dan menolong Daulah Islamiyah ini; karena pemimpinnya adalah keturunan Ahlul Bait Rasulullah SAW. Al Ustadz Al Mujahid Abu Bakar Al Baghdadi hafizhahullah adalah keturunan Ahlul Bait.

Kami juga menyerukan para Salafiyun, apapun jalurnya dan dimanapun tempatnya, agar mendukung Daulah Islamiyah ISIS ini. Sebab mereka selama ini sangat aktif mendakwahkan: Taat Ulil Amri, taat pemerintah Muslim, taat pemimpin Islam, larangan memberontak penguasa Muslim, dan seterusnya. Hayo kawan-kawan Salafiyun, buktikan kejujuran kalian, buktikan TAUHID kalian di hadapan Allah, Rasul-Nya, dan Ummat ini! Buktikan bahwa pengakuan kalian selama benar, jujur, bahwa agama kalian selama ini adalah lurus di atas Manhaj Salaf. Buktikan wahai saudara-saudaraku Salafiyun rahimakumullah jami’an.

Alhamdulillah, atas izin Allah, secara perlahan-lahan mulai nampak kebenaran Daulah Islamiyah ISIS. Hal itu dapat dibaca dari derasnya permusuhan yang ditujukan padanya dari kekuatan-kekuatan politik anti Islam. Berikut ini sebagian tanda-tanda kebenaran Daulah Islamiyah ISIS:

[1]. Pemerintah Arab Saudi telah menetapkan ISIS sebagai organisasi teroris, bersama Ikhwanul Muslimin dan Jabhah Nusrah di Suriah. ISIS tidak menyerang kepentingan Saudi, mengapa diteroriskan? Jabhah Nusrah jelas-jelas melawan rezim Syiah Nushairiyah di Suriah, mengapa diteroriskan juga? Bukankah Saudi sangat ingin rezim Bashar Assad dihancurkan di Suriah? Dan Ikhwanul Muslimin sekian lama termasuk organisasi yang taat aturan hukum (sekuler) yang berlaku, mengapa diteroriskan juga? Saudi tidak punya alasan menteroriskan ISIS karena alasan mereka salah & bathil.

[2]. Amerika telah meningkatkan bantuan senjata berat, termasuk pesawat Drone, ke pemerintah Syiah Irak di bawah Nuri Al Maliki. Bantuan senjata itu sedianya untuk memberantas “para teroris” yang tergabung dalam ISIS.

[3]. Perserikatan negara-negara monarkhi Arab, yaitu Saudi, UEA, dan Bahrain sangat menentang pejuang-pejuang Islam di Suriah dan Irak. Mereka akan menangkap para pejuang yang pulang ke negara masing-masing, lalu menjebloskannya ke penjara, jika mereka tidak kembali setelah melewati batas waktu yang mereka tetapkan. Kebathilan raja-raja monarkhi anak keturunan Abu Jahal Cs ini sangat nyata ketika mendukung rezim Abdul Fattah As Sissi di Mesir yang telah membantai ribuan kaum Muslimin dan Mukminin Mesir.

[4]. Perserikatan Syiah di Timur Tengah sangat marah dengan serbuan pasukan ISIS ke Suriah, karena itu dikhawatirkan akan meruntuhkan rezim Bashar Assad. Maka Iran, Hizbullah Libanon, dan tentara rezim Assad bersatu padu membendung pengaruh ISIS di Suriah. Termasuk aktivis-aktivis Syiah di Indonesia dan dunia dimobilisasi untuk membantu rezim Assad.

[5]. Israel sangat ketakutan dengan berdirinya ISIS, serta berkumpulnya para mujahidin global di Suriah. Mereka selama ini sudah kelelahan menghadapi Hamas, lalu datang rombongan mujahidin dalam jumlah lebih besar, yaitu ISIS, Jabhah Nusrah, Jabhah Islamiyah, dan sebagainya. Israel tidak mau rezim Assad runtuh, lalu berganti pemerintahan Islam di Suriah. Kalau sampai begitu, ancaman terhadap Israel akan semakin terbuka dan berbahaya. (Amin Allahumma amin).

[6]. Negara-negara anti Islam di dunia sepakat tidak mendukung perjuangan mujahidin di Suriah dan mempersulit siapa saja yang hendak terjun membantu mujahidin kesana. Bagi mereka yang ingin datang ke Irak untuk membantu ISIS juga dipersulit dan diancam dengan tuduhan terorisme.

[7]. Daulah Islamiyah ISIS juga dimusuhi oleh PKK, partai komunis Kurdi, yang tentu saja haluan akidahnya atheis dan komunis. PKK terus melancarkan permusuhan dan serangan, sesuatu yang tidak mereka lakukan kepada pemerintah Turki.

[8]. Lembaga dunia seperti PBB tidak ada kepeduliannya sedikit pun kepada ISIS, atau kaum Muslimin yang dibantai rezim Assad di Suriah. Lembaga seperti OKI, Parlemen Uni Eropa, sama saja mereka.

[9]. Kaum hedonis, liberalis, mulhid Arab sepakat untuk membenci ISIS, menentangnya, menjelek-jelekkan citranya, dan tidak menghendaki berdirinya negara berazaskan Islam. Demikian juga para cendekiawan, pemikir, penulis, wartawan, seniman, dan sebagainya di dunia Arab. Mereka takut jika Syariat Islam tegak berdiri, mereka tak boleh berhedon-hedon ria. Seperti ungkapan terkenal dari Ulil Abshar bahwa: “Negara sekuler bisa menampung hawa maksiyat dan kesalehan sekaligus.”

[10]. Berdirinya ISIS juga dibenci oleh para ulama bayaran, yang menjual fatwa dan ilmu agama, untuk mendapat kemuliaan dunia, kesenangan syahwat, popularitas, dan kenyamanan hidup. Orang-orang begini banyak, di Timur Tengah maupun di Indonesia dan dunia Islam. Mereka disebut dalam Al Qur’an dengan ungkapan: Yasytaruna bi ayatillah tsamanan qalilan (menjual ayat-ayat Allah dengan harga murah). Harga murah di sini maksudnya, menjual dengan imbalan kenikmatan dunia.

Dari hal-hal seperti ini tampak jelas bahwa yang membenci ISIS adalah: Amerika, Uni Eropa, Bashar Assad, Zionis Israel, raja-raja monarkhi Arab, Syiah Iran-Irak-Libanon-Suriah, kaum hedonis, dan para sekutunya.

Ada juga yang membenci ISIS karena salah paham, belum mengerti, atau mendapat sekian banyak informasi salah dari media-media sekuler. Orang-orang yang salah paham, semoga mendapat tuntunan dan taufik dari Allah Ta’ala. Amin ya Sallam.

Ada yang mengatakan, kalau ISIS dibenci oleh Saudi, tidak menjamin bahwa ISIS menjadi benar. Maka pertanyaannya kami adalah: Bagaimana dengan Amerika, Eropa, Zionis Israel, Syiah, kaum hedonis dan liberal yang juga sama-sama membencinya? Pertanyaan lain: Bagaimana dengan Ikhwanul Muslimin yang juga dibenci Saudi, dan Jabhah Nusrah yang berjuang di Suriah? Apa salah mereka sehingga dibenci? Pertanyaan lanjutan: Mengapa bukan Saudi sendiri yang memulai berdirinya Daulah Islamiyah, padahal mereka memiliki sejuta satu kemampuan untuk membentuk negara Islami? Mengapa Saudi justru sekian lama membentuk negara kerajaan nasionalis? Andaikan dulu, di masa lalu, Allah tidak menolong Muhammad Al Saud rahimahullah dengan Jihad para penuntut ilmu (Wahabi), pastilah tidak akan pernah berdiri Kerajaan Saudi.

Kami sangat berharap kepada ikhwan-akhwat Salafiyun di seluruh dunia agar segera mengulurkan tangan kepada Daulah Islamiyah ISIS di Irak dan Suriah ini. Kami berharap mereka membantu dengan tenaga, pemikiran, dukungan moral, dana, santunan sosial, atau minimal dengan doa. Mengapa demikian? Karena ikhwan-akhwat Salafiyun terkenal dengan seruannya untuk taat Ulil Amri, mendukung pemimpin Muslim, mendukung pemerintahan Islam. Kini Islam, kaum Muslimin, dan Allah Ta’ala sedang menantikan uluran tangan dan bukti keberpihakan mereka kepada Manhaj Salaf. Semoga Allah Ta’ala merahmati mereka di atas Al Haq, menunjuki jalan yang kuat dan teguh, serta membuat mereka mencintai Sunnah selamanya. Amin Allahumma amin.

Demikian sekilas tulisan sederhana yang bisa kami sampaikan. Semoga bermanfaat, memberi pencerahan (dengan izin Allah), serta berterima di hati-hati kaum Muslimin di mana saja mereka berada. Amin ya Rabbal ‘alamiin.

Naqulu qauli hadza nastaghfirullaha lana wa lakum jami’an, walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, wallahu a’lam bisshawaab, was salamu ‘alaikum wa rahmatullah wabarakaatuh.

(Mine).





  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Benci Khilafah Islamiyyah Adalah Benci Islam

 


Sekarang ini para tokoh yang mengaku Islam memvonis orang-orang yang mendukung Daulah Islamiyyah atau Khilafah Islamiyyah (bukan ISIS karena ISIS sudah tidak ada) sebagai orang-orang yang sinting alias gila seperti kutipan berikut: (“Hanya orang sinting saja yang mau bergabung dengan ISIS dan kelompok sejenis itu,” kata Syafi’i kepada Tempo melalui pesan singkat, Kamis, 31 Juli 2014. http: //www.tempo.co/read/news/2014/08/01/078596645/Syafii-Maarif-Dukung-ISIS-Itu-Sinting).
Padahal Daulah Islamiyyah itu murni membawa ajaran yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan melaksanakan tauhid yang merupakan dakwah para nabi dan rasul, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga dituduh oleh kaumnya yang kafir sebagai orang sinting alias gila, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوا آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَّجْنُونٍ

“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri. dan mereka berkata: “Apakah sesungguhnya kami harus meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?”.” [Ash Shaaffaat: 35-36],
dan firman-Nya Ta’ala:

أَمْ لَمْ يَعْرِفُوا رَسُولَهُمْ فَهُمْ لَهُ مُنكِرُونَ أَمْ يَقُولُونَ بِهِ جِنَّةٌ بَلْ جَاءهُم بِالْحَقِّ وَأَكْثَرُهُمْ لِلْحَقِّ كَارِهُونَ

“Ataukah mereka tidak mengenal rasul mereka, karena itu mereka memungkirinya?  Atau (apakah patut) mereka berkata: “Padanya (Muhammad) ada penyakit gila.” Sebenarnya dia telah membawa kebenaran kepada mereka, dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran.” [Al Mu’minun: 69-70].
Jadi jangan heran bila para pendukung Daulah Islamiyyah itu dituduh sinting alias gila, karena panutan mereka yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dituduh gila juga oleh para tokoh saat itu.

Sebagian para tokoh yang mengaku islam di negeri ini juga menyebut para pendukung Daulah Islamiyyah juga sebagai orang-orang bodoh alias dangkal pemikirannya, seperti kutipan berikut: (“Yang mendukung ISIS adalah orang bodoh karena tidak memahami pribadi dan sejarah bangsa Indonesia sendiri. Bagi NU, NKRI yang berdasarkan Pancasila adalah upaya final untuk mendirikan negara Indonesia,” tukasnya. http: //www.republika.co.id/berita/internasional/global/14/08/05/n9tsfo-pbnu-yang-mendukung-isis-adalah-orang-bodoh).
Maka itu tidaklah mengherankan dikarenakan para pengikut para Nabi juga disebut sebagai orang-orang yang dangkal pemikiran lagi bodoh, sebagaimana apa yang Allah Ta’ala firmankan tentangnya:

فَقَالَ الْمَلأُ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قِوْمِهِ مَا نَرَاكَ إِلاَّ بَشَرًا مِّثْلَنَا وَمَا نَرَاكَ اتَّبَعَكَ إِلاَّ الَّذِينَ هُمْ أَرَاذِلُنَا بَادِيَ الرَّأْيِ وَمَا نَرَى لَكُمْ عَلَيْنَا مِن فَضْلٍ بَلْ نَظُنُّكُمْ كَاذِبِينَ

“Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang dangkal pemikiran, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta”.” [Huud: 27].
Mereka disebut dangkal pikiran dan bodoh dikarenakan mereka mengikuti murni apa yang Allah dan Rasul-Nya ajarkan dan perintahkan tanpa menentangnya dengan akal-akal yang telah terkontaminasi oleh virus-virus kesukuan dan sekulerisme, di mana syiar mereka adalah sami’naa wa atha’naa (kami mendengar dan taat) sehingga disebut bodoh dan dangkal karena tidak dipertimbangkan dengan pola pikir Barat dan Filsafatnya yang mendominasi masa kini dan telah merasuki jiwa-jiwa bermental jajahan.

Para thaghut dan rengrengannya juga mengancam para pendukung Daulah Islamiyyah dan yang berbai’at kepadanya dengan ancaman pencabutan kewarganegaraan (pengusiran sosial) kecuali kalo mau kembali kepada ajaran Islam ala Indonesia (alias beragama Pancasila), seperti kutipan berikut: (Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Saleh Partaonan Daulay mendesak pemerintah untuk mencabut kewarganegaraan warga negara Indonesia yang terbukti menjadi pendukung Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS). “WNI yang menjadi pejuang ISIS di Timur Tengah harus dicabut (kewarganegaraannya). Tindakan tegas diperlukan agar mereka tidak mudah kembali ke Indonesia untuk menyebarkan paham dan ideologinya,” kata Saleh Partaonan Daulay saat dihubungi di Jakarta, Rabu (6/8/2014), http: //www.antaranews.com/berita/447254/pemuda-muhammadiyah-cabut-kewarganegaraan-wni-pendukung-isis).
Maka begitu juga para thaghut zaman dulu mengancam para nabi dan para pengikutnya dengan ancaman yang sama, sebagaimana yang Allah Ta’ala firmankan:

قَالَ الْمَلأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُواْ مِن قَوْمِهِ لَنُخْرِجَنَّكَ يَا شُعَيْبُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَكَ مِن قَرْيَتِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا قَالَ أَوَلَوْ كُنَّا كَارِهِينَ

“Pemuka-pemuka dari kaum Syuaib yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kami akan mengusir kamu hai Syuaib dan orang-orang yang beriman bersamamu dari kota kami, kecuali kamu kembali kepada agama kami”. Berkata Syuaib: “Dan apakah (kamu akan mengusir kami), kendatipun kami tidak menyukainya?”.” [Al A’raf: 88],
dan firman-Nya Ta’ala:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُواْ لِرُسُلِهِمْ لَنُخْرِجَنَّكُم مِّنْ أَرْضِنَآ أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ لَنُهْلِكَنَّ الظَّالِمِينَ

“Orang-orang kafir berkata kepada Rasul-rasul mereka: “Kami sungguh-sungguh akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu kembali kepada agama kami”. Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka: “Kami pasti akan membinasakan orang-orang yang lalim itu,” [Ibrahim: 13].

Bila para thaghut masa kini berusaha menghalang-halangi kaum muslimin dari berhijrah ke Daulah Islamiyyah, maka orang-orang kafir dahulu juga sama seperti itu yaitu menghalang-halangi kaum muslimin dari hijrah bahkan hatta hijrah ke negeri kafir yang lebih aman-pun mereka tidak rela sehingga dahulu musyrikin Quraisy mengirim duta untuk menyusul kaum muslimin yang hijrah ke Habasyah di awal Islam, dan ketika sudah ada Darul Islam di Madinah dan hijrah diwajibkan maka musyrikin Quraisy-pun berupaya menggagalkan hijrah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan melakukan penyisiran perjalanan, dan mereka mencegat para shahabat yang hendak hijrah dan memenjarakan mereka. Shuhaib Ar Rumiy bahkan ketika hendak hijrah dicegat musyrikin Quraisy dan mereka melepaskannya setelah ia mau memberikan seluruh hartanya kepada mereka, sehingga ketika sampai turun ke Madinah Allah Ta’ala menurunkan ayat ini:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاء مَرْضَاتِ اللّهِ وَاللّهُ رَؤُوفٌ بِالْعِبَادِ

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” [Al Baqarah: 207]
dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepadanya:

ربح البيع

“Beruntunglah penjualan itu”,
begitu pula sebagian orang-orang kafir mau melepaskan muhajirin bila sudah memberikan tebusan. Itulah perilaku-perilaku kaum kafir yang selalu sama pola dan bentuknya, hanya beda nama dan zamannya saja. Allah Ta’ala berfirman:

أَتَوَاصَوْا بِهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ

“Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.” [Adz Dzariyat: 53],
dan berfirman:

تَشَابَهَتْ قُلُوبُهُمْ

Sungguh serupa hati-hati mereka itu. [Al Baqarah: 118].

Jadi janganlah heran kita semua dengan tindakan para thaghut dan kaki tangan mereka terhadap para muwahhidin. Bersabarlah karena bila dulu ada Badar, Uhud, Hudaibiyyah dan Futuh Mekkah maka begitu juga zaman ini akan ada juga hal serupa. Sebagaimana dulu di awal Islam kaum muwahhidin dalam kondisi ketakutan dan kekhawatiran ditangkap dan dibunuh, sebagaimana firman-Nya Ta’ala:

وَاذْكُرُواْ إِذْ أَنتُمْ قَلِيلٌ مُّسْتَضْعَفُونَ فِي الأَرْضِ تَخَافُونَ أَن يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُم بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan ingatlah (hai para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur.” [Al Anfal: 26],
maka begitu juga di masa kelahiran Islam hakikiy di akhir zaman ini akan ada fase ketakutan dan kekhawatiran, dan sebagaimana dulu ada fase Hudaibiyyah yang pada kondisi itu kaum muslimin merasa aman dan Daulah Islam diakui eksistensinya yang diperhitungkan dalam politik dunia, maka tidak lama lagi in Syaa Allah fase itu akan kita alami, dan sebagaimana dulu ada fase futuh Mekkah di mana manusia berbondong-bondong masuk islam maka in Syaa Allah fase itu akan kita alami sebagaimana di dalam janji Allah Ta’ala yang telah dikabarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di mana Islam akan masuk ke setiap rumah di bumi ini dengan kejayaan orang yang jaya dan kehinaan orang yang hina. Maka bersabarlah sampai akhir hayat, dan ingatlah bahwa hakikat kemenangan itu adalah keteguhan di atas tauhid dan manhaj. Daulatul Islam Baqiyah Bi Idznillah Ta’ala walaupun para thaghut dan para ulama suu’ itu tidak menyukai dan tidak menginginkannya, serta walaupun mereka berusaha keras dan mengerahkan segala upaya dalam memadamkan dan menumpasnya, karena cahaya Allah Ta’ala tidak mungkin bisa dipadamkan, Allah Ta’ala berfirman:

يُرِيدُونَ أَن يُطْفِؤُواْ نُورَ اللّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللّهُ إِلاَّ أَن يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” [At Taubah: 32-33],
dan berfirman:

يُرِيدُونَ لِيُطْفِؤُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci.” [Ash Shaff: 8-9].

Dienullah ini adalah Nuur (Cahaya) dan Naar (Api), cahaya yang menerangi jalan orang-orang mu’min dan api yang membakar orang-orang kafir. Maka gunakanlah akal sehat kalian dan ambillah pelajaran dari perjalanan umat terdahulu. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan semua sahabatnya. Dan Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

Abu Sulaiman

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Menyongsong Perang Ahzab Jilid 2




Aneh Umat ini, dan aneh pula orang-orang yang dianggap tokoh dan di-ulama-kan umat, seolah mereka tidak pernah membaca Al Qur’an dan mengkaji Sirah Nabawiyyah. Setiap kali fitnah dan tuduhan disematkan kepada Daulah Islamiyyah, maka Allah Ta’ala memberikan jawabannya dengan fakta realita yang nyata, namun setiap kali syubhat dan fitnah itu terbantahkan maka para pendengki dan musuh Daulah itu mendatangkan syubhat dan fitnah yang lain, dan begitulah seterusnya, ini semua tidak lain adalah dikarenakan Daulah Islamiyyah itu membawa ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang benar-benar murni lagi segar seolah ia baru diturunkan, sedangkan setiap nabi itu memiliki musuh dari kalangan setan manusia dan jin yang melontarkan syubhat yang dikemas dengan kemasan yang indah dalam rangka menipu manusia, maka begitu juga setiap orang atau pihak yang membawa ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang murni maka ia akan memiliki musuh dan pendengki dari kalangan setan jin dan manusia yang melontarkan syubhat dan fitnah dalam rangka menipu umat dan memalingkan mereka darinya, Allah Ta’ala berfirman:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نِبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا وَلَوْ شَاء رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (Al An’am: 112).
Ketahuilah dan ingatlah bahwa barangsiapa tidak mengenali al Haq dan Daulah Khilafah sekarang, maka dia tidak akan mengenali al Haq dan Daulah Khilafah di saat kemunculan Al Mahdiy dan datangnya Dajjal, dikarenakan syubhat semakin hari semakin besar dan pekat, bila dengan syubhat murahan saja banyak orang terpengaruh dan mengikutinya serta malah mencela pihak yang benar, maka bagaimana dengan fitnah Dajjal yang mana ia adalah fitnah paling besar yang tidak seorangpun merasa mantap dengan imannya terus ia mendatangi Dajjal dalam rangka menghujjahnya namun pada akhirnya ia malah jadi pengikut Dajjal, karena sangat dasyatnya syubhat yang dibawanya. Maka sadarlah wahai para pencela Daulah Khilafah, sambutlah karunia Allah Ta’ala yang sudah ada di depan mata kita yaitu Daulah Khilafah, dan kasihanilah diri kalian yang sekarang sudah berbaris bersama salibis, zionis dan para thaghut murtad serta para penyembah berhala di BARISAN dan fusthath (Tenda/Kubu) penentang Daulah Islamiyyah. Perang Ahzab (Multi Nasional) dalam memerangi dan mengepung Daulah Islamiyyah akan dimulai yang dipimpin oleh Amerika, dan itu adalah tanda awal kemenangan yang telah Allah Ta’ala janjikan, sebagaimana Perang Ahzab di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah disambut para sahabat dengan keyakinan datangnya janji Allah Ta’ala, di mana Allah Ta’ala berfirman:

وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا

“Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (Al Ahzab: 22), dikarenakan Nashrullah itu akan datang di saat puncak kesulitan dan puncak kesabaran:

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْاْ مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاء وَالضَّرَّاء وَزُلْزِلُواْ حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللّهِ قَرِيبٌ

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Al Baqarah: 214), dan Dia berfirman:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Asy Syarh: 5-6).
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:

وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, dan pertolongan itu bersama kesulitan, serta bersama kesusahan itu ada kemudahan.”
Akan tetapi orang-orang munafiq dan para pendengki Daulah Islamiyyah, maka di saat Daulah itu dikeroyok oleh pasukan Sekutu (Ahzab/Multi Nasional), maka mereka aka mencemoohkan Daulah Islamiyyah dan akan menyalahkannya dikarenakan telah mengundang banyak musuh serta mereka meyakini bahwa Daulah Islamiyyah itu pasti hancur dan mereka menyalahkan Manhaj Daulah Islamiyyah, sebagaimana kaum munafiqin di zaman Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meyakini hal yang sama di saat pasukan Ahzab mengepung Madinah, Allah Ta’ala mengisahkan:

إِذْ جَاؤُوكُم مِّن فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنكُمْ وَإِذْ زَاغَتْ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا وَإِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ مَّا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ إِلَّا غُرُورًا

“(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat. Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: “Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya”.” (Al Ahzab: 10-12).
Dengan kondisi itu orang-orang mu’min yang jujur meyakini bahwa itu justru awal dari datangnya Nashrullah, karena pertolongan Allah Ta’ala akan datang di atas puncak kesabaran dan puncak kesulitan, dan itulah yang terjadi pada perang Ahzab di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana di dalam kondisi yang sangat genting itu datanglah nashrullah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَّمْ تَرَوْهَا وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا

“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan.”(Al Ahzab: 9), dan berfirman:

وَرَدَّ اللَّهُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِغَيْظِهِمْ لَمْ يَنَالُوا خَيْرًا وَكَفَى اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ الْقِتَالَ وَكَانَ اللَّهُ قَوِيًّا عَزِيزًا

“Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Al Ahzab: 25).
Dan setelah Ahzab itu maka tidak ada lagi kecuali invasi kaum muslimin ke negeri-negeri kafir, Rasulullah mengatakan setelah cerai-berainya Ahzab:

الْآنَ نَغْزُوهُمْ وَلَا يَغْزُونَنَا

“Sekarang kita yang menginvasi mereka dan mereka tidak akan menginvasi kita lagi.”
Maka setelah itu disapu bersihlah kaum Yahudi Banu Quraidhah yang membantu musyrikin Quraisy di Ahzab, di mana mereka dikepung oleh pasukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di benteng-benteng mereka dan akhirnya mereka menyerah pasrah, Allah Ta’ala mengisahkan:

وَأَنزَلَ الَّذِينَ ظَاهَرُوهُم مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِن صَيَاصِيهِمْ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ فَرِيقًا تَقْتُلُونَ وَتَأْسِرُونَ فَرِيقًا وَأَوْرَثَكُمْ أَرْضَهُمْ وَدِيَارَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ وَأَرْضًا لَّمْ تَطَؤُوهَا وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرًا

“Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.” (Al Ahzab: 26-27).
Di mana tanah, harta dan rumah-rumah mereka menjadi rampasan perang milik kaum muslimin, dan anak-anak dan para wanita mereka menjadi hamba-sahaya bagi kaum muslimin, serta laki-laki yang sudah baligh mereka dipenggali lehernya satu persatu dalam satu hari atas perintah Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam dan dimasukkannya mayat-mayat mereka itu di parit-parit yang digali di pasar-pasar Madinah, sedang jumlah yang dibunuh itu berkisar antara 600-900 orang Yahudi. Dan setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menaklukkan suku-suku kafir dan memberikan pelajaran kepada suku-suku kafir yang telah menindas kaum muslimin, dan kemudian perjanjian Hudaibiyyah di mana eksistensi kenegaraan Daulah Islam di Madinah diakui oleh Otoritas Jazirah Arab yaitu musyrikin Quraisy, dan setelah itu terjadilah Futuh Mekkah. Dan in syaa Allah kondisi itu akan dilalui juga oleh Daulah Islamiyyah atau Daulah Khilafah, baik musuh atau pendengki itu suka maupun tidak suka.
Di saat Ahzab jilid dua itu terjadi dengan Koalisi pimpinan Amerika menyerang Daulah Islamiyyah, maka kafirlah setiap orang yang menginginkan kehancuran Daulah Islamiyyah oleh Ahzab itu, dan munafiq-lah orang yang menyembunyikan keinginan itu di hatinya, dan keinginan hati itu akan Allah tampakkan di dalam ungkapan-ungkapan lisan samar mereka, Allah Ta’ala berfirman:

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ أَن لَّن يُخْرِجَ اللَّهُ أَضْغَانَهُمْ وَلَوْ نَشَاء لَأَرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُم بِسِيمَاهُمْ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ

“Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka? Dan kalau Kami menghendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu.” (Muhammad: 29-30).
Walau akan ada segolongan pihak yang akan menjadi penonton yang menunggu siapa pemenang di dalam Perang Ahzab itu, dan mereka akan mengikuti pihak pemenang, sebagaimana kaum arab pedalaman zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi penonton dan menggantungkan keagamaan mereka kepada pihak yang menang, di mana mereka menyandarkan kebenaran ajaran kepada kemenangan pihak yang berperang, Allah Ta’ala mengisyaratkan kepada mereka itu di dalam firman-Nya:

يَحْسَبُونَ الْأَحْزَابَ لَمْ يَذْهَبُوا وَإِن يَأْتِ الْأَحْزَابُ يَوَدُّوا لَوْ أَنَّهُم بَادُونَ فِي الْأَعْرَابِ يَسْأَلُونَ عَنْ أَنبَائِكُمْ وَلَوْ كَانُوا فِيكُم مَّا قَاتَلُوا إِلَّا قَلِيلًا

“Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu. Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja.” (Al Ahzab: 20).
Oleh sebab itu di saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berhasil menaklukkan Mekkah maka berbondong-bondonglah berbagai suku pedalaman masuk Islam. Dan kondisi ini in Syaa Allah akan terjadi pula, di mana Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam telah mengabarkan kepada kita bahwa dien ini akan sampai ke semua tempat yang ada malam dan siang, dien ini akan masuk ke setiap rumah, baik rumah yang terbuat dari tanah maupun dari bulu-bulu hewan dengan kejayaan orang yang jaya dan kehinaan orang yang hina. Maka ambillah bagian posisimu wahai kawan, apakah bersama Daulah Islamiyyah, atau bersama Ahzab (Amerika dan sekutunya dari kalangan para thaghut juga para ulama suu’ yang merapat dengan thaghut dan rela menjadi sepatu mereka) atau menjadi penonton seperti orang-orang arab badui menunggu siapa pemenang?!

Abu Sulaiman

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sesungguhnya Daulah Islamiyyah itu adalah janji Allah Ta’ala -In Syaa Allah-

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ ٱلَّذِى ٱرْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًۭا ۚ يَعْبُدُونَنِى لَا يُشْرِكُونَ بِى شَيْـًۭٔا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” (An Nuur: 55)
Dan itu merupakan ketentuan Allah Ta’ala yang sudah digariskan, di mana bila kaum mu’minin mustadl’afin kembali kepada ajaran Allah dan para thaghut semakin durjana, maka itu adalah awal tanda kehancuran para thaghut dan keberkuasaan orang-orang mu’min:
وَنُرِيدُ أَن نَّمُنَّ عَلَى ٱلَّذِينَ ٱسْتُضْعِفُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةًۭ وَنَجْعَلَهُمُ ٱلْوَٰرِثِينَ وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ وَنُرِىَ فِرْعَوْنَ وَهَٰمَٰنَ وَجُنُودَهُمَا مِنْهُم مَّا كَانُوا۟ يَحْذَرُونَ
“Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi). Dan akan Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Firaun dan Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu” (Al Qashash: 5-6)
Dan Dia sekarang memperlihatkan kepada para thaghut dan aparatnya kehancuran diri dan kekuasaan mereka lewat tangan bala tentara Daulah Khilafah, dan kehancuran mereka akan terus berkelanjutan dan mereka akan jatuh satu demi satu.
Dan itu dikarenakan syari’at jihad di atas kejelasan tauhid ditegakkan oleh Daulah Islamiyyah. Dan ini adalah bukti nyata sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam.
Al Imam Ahmad meriwayatkan (18406) juga  Ath Ath Thayalisiy (439) dan Al Bazzar (2796) dari Hudzaifah radliyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون خلافة على منهاج النبوة، فتكون ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها إذا شاء الله أن يرفعها، ثم تكون ملكا عاضا، فيكون ما شاء الله أن يكون، ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون ملكا جبرية، فتكون ما شاء الله أن تكون، ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها، ثم تكون خلافة على منهاج النبوة “.
“Kenabian itu ada di tengah kalian selama waktu yang Allah kehendaki untuk berada, kemudian Dia mengangkatnya bila Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian jadilah khilafah di atas minhaj kenabian, di mana ia berada di tengah kalian selama waktu yang Allah kehendaki untuk berada, kemudian Allah mengangkatnya bila Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian jadilah kerajaan yang menggigit, di mana ia berada di tengah kalian selama waktu yang Allah kehendaki untuk berada, kemudian mengangkatnya bila Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian jadilah kerajaan yang otoriter, di mana ia berada di tengah kalian selama waktu yang Allah kehendaki untuk berada, kemudian mengangkatnya bila Dia berkehendak untuk mengangkatnya. Kemudian muncullah khilafah di atas minhaj kenabian.”
Yaitu fase terakhir umat ini setelah dikungkung oleh mulkan jabariyyah yang satu demi satu berjatuhan di tangan mujahidin Daulah Khilafah yang dengan izin Allah Ta’ala akan sampai ke Indonesia dan bahkan menguasai dunia dengan hukum Allah Ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
ليبلغن هذا الأمر ما بلغ الليل والنهار ولا يترك الله بيت مدر ولا وبر إلا أدخله الله هذا الدين بعز عزيز أو بذل ذليل عزا يعز الله به الإسلام وذلا يذل الله به الكفر
“Sungguh urusan ini benar-benar akan sampai ke seluruh penjuru bumi, dan Allah tidak membiarkan satu rumah tembok dan rumah bulu-pun melainkan Dia masukan dien ini ke dalamnya dengan kejayaan orang yang jaya atau dengan kehinaan orang yang hina, kejayaan yang dengannya Allah jayakan Islam dan kehinaan yang dengannya Allah hinakan kekafiran.” (Hadits Riwayat Ahmad)
Ini adalah janji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan beliau itu tidak berkata kecuali berdasarkan wahyu:
مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَىٰ وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلْهَوَىٰٓ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْىٌۭ يُوحَىٰ
Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru, dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya) (An Najm: 2-4).
Dan yang dimaksud dengan kehinaan bagi kekafiran di dalam hadits ini adalah bahwa orang-orang kafir asli akan dikalahkan dan bertekuk lutut kepada kekuasaan kaum muslimin, sehingga yang tidak mau masuk Islam di antara mereka mau tidak mau menjadi orang-orang kafir dzimmiy yang harus menunaikan jizyah kepada Daulah Islam, Allah Ta’ala berfirman:
قَٰتِلُوا۟ ٱلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَلَا بِٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَلَا يُحَرِّمُونَ مَا حَرَّمَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَلَا يَدِينُونَ دِينَ ٱلْحَقِّ مِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ حَتَّىٰ يُعْطُوا۟ ٱلْجِزْيَةَ عَن يَدٍۢ وَهُمْ صَٰغِرُونَ
Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (At Taubah: 29)
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
بعثت بالسيف بين يدي الساعة حتى يعبد الله وحده لا شريك له وجعل رزقي تحت ظل رمحي وجعل الذل والصغار على من خالف أمري ومن تشبه بقوم فهو منهم
“Aku diutus dengan pedang sebelum hari kiamat sampai Allah sajalah yang diibadati lagi tidak ada sekutu bagi-Nya, dan rizqi-ku dijadikan dibawah bayangan tombakku, serta kehinaan dan kerendahan dijadikan atas orang yang menyalahi perintahku…” (Riwayat Abu Dawud).
Kita sekarang bisa mengetahui bagaimana orang-orang kafir nasrani di Raqqah dan Mosul mereka menerima menjadi Ahli Dzimmah dan menunaikan jizyah kepada Daulah Khilafah. Sehingga makar atau upaya musuh untuk menghancurkan Daulah Islam ini tidak akan berhasil, dan justru suatu saat nanti Daulah Islam-lah yang akan menghapus negara-negara kafir itu dari peta kekuasaan mereka dan tapal-tapal batas negara-negara itu akan dihapus, dan ini adalah suatu kepastian yang tidak bisa ditolak, dan pada gilirannya akan masuk ke negeri ini dengan izin Allah Ta’ala. (Abu Sulaiman Al Arkhabiliy)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kalian Mencontoh Salaf dalam Hal Pembakaran

Kalian Mencontoh Salaf Dalam

Pembakaran


 Penulis: Syaikh Husen Ibnu Mahmud


Alih Bahasa: Abu Sulaiman Al Arkhabiliy



ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺮﺣﻤﻦ ﺍﻟﺮﺣﻴﻢ
Segala puji bagi Allah yang mengatakan di dalam Kitab-Nya:
ﺇِﺫْ ﻳُﻮﺣِﻲ ﺭَﺑُّﻚَ ﺇِﻟَﻰ ﺍﻟْﻤَﻼَﺋِﻜَﺔِ ﺃَﻧِّﻲ ﻣَﻌَﻜُﻢْ ﻓَﺜَﺒِّﺘُﻮﺍ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﺳَﺄُﻟْﻘِﻲ ﻓِﻲ ﻗُﻠُﻮﺏِ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﺍﻟﺮُّﻋْﺐَ ﻓَﺎﺿْﺮِﺑُﻮﺍ ﻓَﻮْﻕَ ﺍﻷَﻋْﻨَﺎﻕِ ﻭَﺍﺿْﺮِﺑُﻮﺍ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻛُﻞَّ ﺑَﻨَﺎﻥٍ
“(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.” kelak akan Aku berikan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka pukullah di atas leher mereka dan pukullah tiap-tiap ujung jari mereka.” (Al-Anfal: 12).
Kemudian shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi yang diutus dengan pedang, yang berbangga diri di tengah manusia dengan ucapannya:
( ﺃﻋﻄﻴﺖ ﺧﻤﺴﺎ ﻟﻢ ﻳﻌﻄﻬﻦ ﺃﺣﺪ ﻗﺒﻠﻲ؛ ﻧﺼﺮﺕ ﺑﺎﻟﺮﻋﺐ ﻣﺴﻴﺮﺓ ﺷﻬﺮ …‏) ‏[ ﻣﺘﻔﻖ ﻋﻠﻴﻪ ‏]
“Aku diberi lima hal yang tidak pernah diberikan kepada seorangpun sebelumku; aku diberikan pertolongan (Allah) dengan rasa gentar (musuh) pada perjalan sebulan…” (Muttafaq ‘Alaih).
Amma Ba’du:
Orang sangat heran terhadap orang-orang yang muncul di layar-layar TV dalam rangka memberikan fatwa kepada manusia dan mereka mengklaim ijma’ di dalam permasalahan yang sangat jelas di hadapan para pencari ilmu yang yunior apalagi di hadapan para ulama!
Seorang dari mereka mengklaim; bahwa membakar orang itu adalah tindakan yang tidak diakui oleh dien, syari’at dan akal! Begitu klaim mereka, dengan seenaknya mereka lancang terhadap dien ini!
Seandainya tidak ada nash dan khabar selain firman Allah Ta’ala:
” ﻭَﺇِﻥْ ﻋَﺎﻗَﺒْﺘُﻢْ ﻓَﻌَﺎﻗِﺒُﻮﺍ ﺑِﻤِﺜْﻞِ ﻣَﺎ ﻋُﻮﻗِﺒْﺘُﻢْ”
Dan jika kamu membalas, maka balaslah dengan (balasan) yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepada kalian…” (An-Nahl: 126), tentulah cukup.
Bom-bom cluster, roket-roket berat dan bahan-bahan radiasi yang ditembakkan orang-orang Amerika terhadap kaum muslimin itu bukankah membakar! bukankah ia itu membakar badan-badan, mencerai-beraikan anggota badan serta menggosongkan kepala-kepala! Maka kenapa para mujahidin tidak memperlakukan mereka dengan tindakan yang sama! -akan datang dalil-dalil yang menjelaskan kebatilan pernyataan mereka itu-.
Adapun masalah penggantungan mayat di atas jembatan Fallujah, maka Allah Ta’ala telah berfirman tentang orang-orang ahli hirabah (perampok):
ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﺟَﺰَﺍﺀُ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻳُﺤَﺎﺭِﺑُﻮﻥَ ﺍﻟﻠﻪَ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟَﻪُ ﻭَﻳَﺴْﻌَﻮْﻥَ ﻓِﻲ ﺍﻷَﺭْﺽِ ﻓَﺴَﺎﺩًﺍ ﺃَﻥْ ﻳُﻘَﺘَّﻠُﻮﺍ ﺃَﻭْ ﻳُﺼَﻠَّﺒُﻮﺍ ﺃَﻭْ ﺗُﻘَﻄَّﻊَ ﺃَﻳْﺪِﻳﻬِﻢْ ﻭَﺃَﺭْﺟُﻠُﻬُﻢْ ﻣِﻦْ ﺧِﻼَﻑٍ ﺃَﻭْ ﻳُﻨْﻔَﻮْﺍ ﻣِﻦَ ﺍﻷَﺭْﺽِ ﺫَﻟِﻚَ ﻟَﻬُﻢْ ﺧِﺰْﻱٌ ﻓِﻲ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻭَﻟَﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﺍﻵﺧِﺮَﺓِ ﻋَﺬَﺍﺏٌ ﻋَﻈِﻴﻢٌ
“Hukuman bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di bumi, hanyalah dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka secara silang, atau diasingkan dari tempat kediamannya. Yang demikian itu kehinaan bagi mereka di dunia, dan di akhirat mereka mendapat azab yang besar.” (Al-ma’idah: 33).
Bila ini adalah terhadap ahli hirabah -walaupun mereka itu orang-orang muslim yang shalat- maka bagaimana dengan orang-orang kafir yang memerangi lagi menyerang lagi aniaya terhadap darah, kehormatan, dan harta? Ada di dalam “Ahkamul Qur’an” milik Ibnul ‘Arabiy: “Al Qadli radliyallahu ‘anhu berkata: “Dulu di saat aku menjabat sebagai qadli, diadukan kepadaku prihal orang-orang yang membegal serombongan orang, di mana mereka menculik paksa seorang wanita dari suaminya dan dari kaum musllimin yang bersama suaminya di dalam rombongan itu, terus mereka membawanya, kemudian dilakukan pengejaran terhadap mereka dan merekapun bisa tertangkap dan didatangkan, maka sayapun bertanya kepada orang yang dengannya Allah telah menguji saya dari kalangan mufti, maka mereka berkata: “Mereka itu bukan muharibin (ahli hirabah), karena hirabah itu hanyalah pada harta bukan pada kemaluan,” maka saya berkata kepada mereka: “Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raji’un, apakah kalian tidak mengetahui bahwa hirabah pada kemaluan itu lebih keji dari hirabah pada harta, dan bahwa manusia seluruhnya rela bila harta mereka lenyap dan dirampok dari tangan mereka asal jangan istri dan puterinya yang diambil, dan seandainya di atas apa yang telah Allah firmankan itu ada hukuman, tentulah ia itu bagi orang yang merampas kemaluan (memperkosa). Cukuplah berteman dengan orang-orang bodoh itu bencana bagi kalian, terutama pada fatwa dan vonis…!!!” Selesai.
Maka perhatikanlah ucapan Al Qadli rahimahullah: “…dan seandainya di atas apa yang telah Allah firmankan itu ada hukuman, tentulah ia itu bagi orang yang merampas kemaluan (memperkosa)…”
Saya katakan: Ini prihal ahli hirabah (perampok) dari kalangan yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah Muhammad Rasulullah, maka bagimana dengan orang yang memperkosa kehormatan kaum muslimat di penjara-penjara Baghdad dan yang lainnya dari kalangan Kafir Nasrani, Yahudi Jahat dan orang-orang murtad, apakah mereka itu tidak berhak untuk dibakar, dicincang, disalib dan digantung…?!
Akan tetapi masalahnya adalah seperti apa yang dikatakan oleh Al Qadli rahimahullah: “…Cukuplah berteman dengan orang-orang bodoh itu bencana bagi kalian, terutama pada fatwa dan vonis…!!!”
Sesungguhnya penteroran dan pembuatan rasa gentar di hati musuh itu adalah hal yang dituntut secara syari’at dan akal, Allah Ta’ala berfirman:
ﻭَﺃَﻋِﺪُّﻭﺍ ﻟَﻬُﻢْ ﻣَﺎ ﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺘُﻢْ ﻣِﻦْ ﻗُﻮَّﺓٍ ﻭَﻣِﻦْ ﺭِﺑَﺎﻁِ ﺍﻟْﺨَﻴْﻞِ ﺗُﺮْﻫِﺒُﻮﻥَ ﺑِﻪِ ﻋَﺪُﻭَّ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﻋَﺪُﻭَّﻛُﻢْ ﻭَﺁﺧَﺮِﻳﻦَ ﻣِﻦْ ﺩُﻭﻧِﻬِﻢْ ﻻَ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻧَﻬُﻢُ ﺍﻟﻠﻪُ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻬُﻢْ ﻭَﻣَﺎ ﺗُﻨْﻔِﻘُﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ ﻓِﻲ ﺳَﺒِﻴﻞِ ﺍﻟﻠﻪِ ﻳُﻮَﻑَّ ﺇِﻟَﻴْﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻧْﺘُﻢْ ﻻَ ﺗُﻈْﻠَﻤُﻮﻥَ
Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; tetapi Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan).” (Al-Anfal: 60).
Dan berfirman:
ﺳَﻨُﻠْﻘِﻲ ﻓِﻲ ﻗُﻠُﻮﺏِ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﺍﻟﺮُّﻋْﺐَ ﺑِﻤَﺎ ﺃَﺷْﺮَﻛُﻮﺍ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳُﻨَﺰِّﻝْ ﺑِﻪِ ﺳُﻠْﻄَﺎﻧًﺎ ﻭَﻣَﺄْﻭَﺍﻫُﻢُ ﺍﻟﻨَّﺎﺭُ ﻭَﺑِﺌْﺲَ ﻣَﺜْﻮَﻯ ﺍﻟﻈَّﺎﻟِﻤِﻴﻦَ
“Akan Kami masukkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir, karena mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan keterangan tentang itu. Dan tempat kembali mereka ialah neraka. Dan (itulah) seburuk-buruk tempat tinggal (bagi) orang-orang zalim.” (Ali ‘Imran: 151).
Dan berfirman:
ﻭَﺃَﻧْﺰَﻝَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻇَﺎﻫَﺮُﻭﻫُﻢْ ﻣِﻦْ ﺃَﻫْﻞِ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏِ ﻣِﻦْ ﺻَﻴَﺎﺻِﻴﻬِﻢْ ﻭَﻗَﺬَﻑَ ﻓِﻲ ﻗُﻠُﻮﺑِﻬِﻢُ ﺍﻟﺮُّﻋْﺐَ ﻓَﺮِﻳﻘًﺎ ﺗَﻘْﺘُﻠُﻮﻥَ ﻭَﺗَﺄْﺳِﺮُﻭﻥَ ﻓَﺮِﻳﻘًﺎ (ﺍﻷﺣﺰﺍﺏ: 26)
“Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizah) yang membantu mereka (galongan-golongan yang bersekutu) dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebagian mereka kamu bunuh dan sebagian mereka kamu tawan.” (Al-Ahzab: 26).
Penteroran musuh itu adalah hal terpuji di setiap waktu, apalagi bila teror itu di saat peperangan. Ini dia Amerika sekarang berupaya menteror kaum muslimin di Iraq lewat cara penghancuran Fallujah dengan alasan bahwa mujahidin telah memutilasi empat mayat orang Amerika, dan ini adalah pesan yang berisi bahwa barangsiapa yang berani dan melakukan hal ini kepada orang-orang Amerika, maka sesungguhnya kami (Amerika) akan membunuhnya dan membunuh keluarganya, membumi-hanguskan kotanya serta merobohkan tempat-tempat ibadahnya, dan kami tidak akan memiliki belas kasih!
Amerika yang telah ada di dalam Kitab yang disucikannya: (Siapa yang menampar pipi kananmu, maka berikan kepadanya pipi kirimu) telah memahami hal ini. Dan adapun orang-orang yang telah ada di dalam Kitab mereka:
“ﻓَﺎﺿْﺮِﺑُﻮﺍ ﻓَﻮْﻕَ ﺍﻷَﻋْﻨَﺎﻕِ ﻭَﺍﺿْﺮِﺑُﻮﺍ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻛُﻞَّ ﺑَﻨَﺎﻥٍ”
“Maka pukullah di atas leher mereka dan pukullah tiap-tiap ujung jari mereka.”
Maka dia malah tidak menepati hal itu kepada Allah di dalam menyikapi kami.
Kami tidak mencela orang-orang Amerika bila mereka melakukan semua itu, karena mereka itu adalah musuh harbiy yang menyerang, yang memiliki ambisi dan permusuhan. Adapun bila ada orang yang malah muncul di hadapan kita seraya mengingkari kaum muslimin yang melakukan tindakan yang semisal dengan apa yang dilakukan orang-orang Amerika, bahkan masih jauh lebih kecil dari itu, maka inilah yang kami sangat ingkari!
Tidak sepantasnya seseorang berbicara di dalam hal ini dan mengeluarkan fatwa di dalamnya selain para mujahidin yang ada di tsughur, dan siapa yang ingin berfatwa maka hendaklah dia membawa peluru-peluruanya dan hendaklah dia pergi ke front supaya ia melihat apa yang dilakukan orang-orang kafir terhadap kaum muslimin dan muslimah di sana, dan supaya ia melihat akibat serangan bom-bom pada potongan-potongan anggota badan anak-anak kaum muslimin, kemudian setelah itu silahkan ia muncul di hadapan kami dengan fatwanya.
Adapun apa yang telah dilakukan ikhwan kita di Fallujah, maka ia itu adalah perealisasian firman Allah Ta’ala terhadap orang-orang kafir:
ﻭَﻇَﻨُّﻮﺍ ﺃَﻧَّﻬُﻢْ ﻣَﺎﻧِﻌَﺘُﻬُﻢْ ﺣُﺼُﻮﻧُﻬُﻢْ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻓَﺄَﺗَﺎﻫُﻢُ ﺍﻟﻠﻪُ ﻣِﻦْ ﺣَﻴْﺚُ ﻟَﻢْ ﻳَﺤْﺘَﺴِﺒُﻮﺍ ﻭَﻗَﺬَﻑَ ﻓِﻲ ﻗُﻠُﻮﺑِﻬِﻢُ ﺍﻟﺮُّﻋْﺐَ…
“Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan (siksaan) kepada mereka dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka…” (Al-Hasyr: 2).
Sungguh terpuji apa yang dilakukan singa-singa Fallujah yang telah mengangkat kepala umat ini dengan ketegaran mereka yang bersejarah lagi agung, kami memohon kepada Allah agar memberikan kepada mereka tambahan tamkin untuk memenggal leher-leher orang-orang kafir dan munafiq.
Adapun masalah pembakaran:
Maka, tatkala segolongan orang dari pengikut Abdullah ibnu Saba Al Himyariy -semoga Allah melaknatnya- dibawa kepada Ali Ibnu Abi Thalib radliyallahu ‘anhu, maka salah seorangnya berkata: “Engkau itu Dia” Maka Ali bertanya kepada mereka: “Siapa Dia itu?” Dia berkata: “Engkaulah Allah”Maka Ali radliyallahu ‘anhu menganggap besar hal ini dan beliaupun memerintahkan agar api dinyalakan dan terus membakar mereka dengan api, dan dalam hal itu beliau radliyallahu ‘anhu berkata:
ﻟﻤﺎ ﺭﺃﻳﺖ ﺍﻷﻣﺮ ﺃﻣﺮﺍً ﻣﻨﻜﺮﺍً… ﺃﺟﺠﺖ ﻧﺎﺭﺍً ﻭﺩﻋﻮﺕ ﻗﻨﺒﺮﺍ
“Aku dikala melihat urusan itu urusan yang mungkar… Maka aku nyalakan api dan aku panggil si Qunbur”
Maksudnya adalah Qunbur yang merupakan hamba-sahayanya, dan ia-lah yang bertugas melemparkan mereka ke dalam api. (Al Milal Wan Nihal milik Asy Syhrastaniy)
Inilah salah seorang Al Khulafa Ar Rasyidin radliyallahu ‘anhu telah membakar orang-orang dengan api. Di dalam Kitab Al Bidayah wan Nihayah milik Ibnu Katsir tentang Hurub Ar Riddah (Perang Menumpas Kemurtaddan), beliau berkata: “Khalid (Ibnul Walid) memanggil Malik Ibnu Nuwairah, terus ia menegurnya dengan keras atas sikapnya mengikuti Sajah dan atas sikap penolakannya dari membayar zakat, dan Khalid berkata: Apa kamu tidak mengetahui bahwa Zakat itu sejawat shalat? Maka Malik berkata: Sesungguhnya teman kalian dulu memang mengklaim itu.” Maka Khalid berkata: “Apakah Ia (Rasulullah) itu teman kami dan bukan temanmu?!, Wahai Dlirar, penggal lehernya,” maka ia dipenggal lehernya, terus Khalid memerintahkan kepalanya itu dijadikan tungku dengan dua batu, dan di atas tiga tungku itu dipasang periuk untuk memasak makanan, kemudian Khalid di malam itu makan dari periuk itu, supaya dengan tindakan itu ia membuat gentar orang-orang arab pedalaman yang murtad dan yang lainnya. Dan dikatakan bahwa rambut Malik itu menjadi bahan bakarnya, sampai daging yang di periuk itu matang dan rambut itu belum habis karena saking banyaknya. Abu Qatadah telah berbicara dengan Khalid tentang apa yang ia lakukan dan keduanya beradu kata dalam hal itu, sampai akhirnya Abu Qatadah pergi dan dan mengadukannya kepada Ash Shiddiq, dan Umar-pun berbicara dengan Abu Qatadah tentang khalid dan berkata kepada Ash Shiddiq: “Pecatlah dia, karena di dalam pedangnya itu terdapat hal yang melelahkan”, Maka Abu Bakar berkata: “Aku tidak akan menarik pedang yang telah Allah hunuskan kepada orang-orang kafir…” (Al Bidayah Wan Nihayah: 6/355)
Dan Umar radliyallahu ‘anhu telah berkata sesudah memecat Khalid dan melihat apa yang dilakukannya terhadap musuh dengan katibahnya yang berada di garis depan pasukan Abu Ubaidah di Syam: “Semoga Allah merahmati Abu Bakar, sungguh ia lebih mengetahui tentang orang-orang hebat daripadaku, Pedang Allah Abu Sulaiman radliyallahu ‘anhu (Khalid bin Walid, edt.) adalah profesor seni teror Islam dan pembimbing Madrasahnya setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, di mana ia di dalam penteroran itu memiliki perjalanan dan pengalaman banyak yang menghikayatkan keahliannya yang luar biasa dan pengetahuannya yang jeli terhadap metode-metode perang urat syaraf. Dan di dalam Peperangan Ullais -yaitu peperangan antara kaum muslimin dengan Persia Majusi- di mana ia adalah peperangan yang sangat ganas di mana kedua belah pihak menampakkan kehebatannya masing-masing, Khalid berkata: “Ya Allah saya berjanji kepada Engkau, bila Engkau memberikan kepada kami pundak-pundak mereka maka saya tidak akan menyisakan dari mereka seorang-pun yang bisa saya tangkap sampai saya alirkan sungai mereka dengan darah-darah mereka”, kemudian sesungguhnya Allah -‘Azza wa Jalla- mengkaruniakan kepada kaum muslimin pundak-pundak mereka, maka penyeru Khalid menyerukan: “Tawanlah, tawanlah, jangan kalian bunuh kecuali orang yang menolak ditawan”, maka pasukan berkuda-pun datang membawa mereka secara bergelombang lagi digiring begitu saja, dan Khalid telah menugaskan orang-orang untuk memenggal leher-leher mereka di sungai, di mana Khalid melakukan hal itu sehari semalam, dan beliau mengejar mereka pada esok hari dan lusa-nya, setiap didatangkan tawanan maka langsung lehernya dipenggal di sungai, sedangkan air sungai sudah dialihkan ke arah lain. Maka sebagian umara mengatakan kepadanya: “Sesungguhnya sungai itu tidak mengalirkan darah-darah mereka kecuali engkau mengalirkan air ke darah-darah itu sehingga air mengalir dengannya, maka engkaupun menunaikanlah sumpahmu.” Maka Khalid-pun mengalirkannya, sehingga sungai-pun mengalir dengan darah yang kental, oleh sebab itu sampai sekarang sungai itu dinamakan Sungai Darah, maka alat penumbuk gandum-pun berputar dengan aliran air yang bercampur darah kental itu, sehingga mencukupi semua pasukan selama tiga hari, sedangkan jumlah orang-orang yang dibunuh itu mencapai 70.000.” (Al Bidayah wan Nihayah).
Peperangan Ullais ialah peperangan yang mana Al Khalifah Ar Rasyid radliyallahu ‘anhu berkata sesudahnya:
يا معشر قريش ، إن أسدكم قد عدا على الأسد ، فغلبه على خراذيله ، عجزت النساء أن تلدن مثل خالد بن الوليد
“Wahai Bangsa Quraisy, sesungguhnya Singa kalian telah menerkam singa, terus ia mengalahkannya terhadap buruan-nya, para wanita sudah tidak mampu melahirkan orang semisal Khalid Ibnul Walid.”
Sehingga di antara pengaruh teror model Khalid ini berkatalah Ukaidir di hari Daumatul Jandal kepada kaumnya: “Aku adalah orang yang paling mengetahui Khalid, tidak ada orang yang bisa selamat darinya di dalam peperangan apapun dan tidak ada orang yang lebih keras darinya, dan tidak satu kaum-pun melihat wajah Khalid baik mereka itu sedikit ataupun banyak melainkan mereka pasti kalah darinya, maka taatilah aku dan berdamailah dengan mereka.”
Adapun kitab-kitab fiqh dan hadits, maka ia telah menyebutkan masalah pembakaran orang-orang kafir di dalam kitab-kitab fiqih dan sirah, di mana telah ada di dalam Nailul Authar milik Asy Syaukaniy (Bab menahan diri dari memutilasi, pembakaran, penebangan pohon dan penghancuran bangunan, kecuali untuk kebutuhan dan mashlahat) di dalam penjelasan hadits Abu Hurairah, bahwa ia berkata:
“ﺑﻌﺜﻨﺎ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠّﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠّﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻲ ﺑﻌﺚ ﻓﻘﺎﻝ: ﺇﻥ ﻭﺟﺪﺗﻢ ﻓﻼﻧًﺎ ﻭﻓﻼﻧًﺎ ﻟﺮﺟﻠﻴﻦ ﻓﺄﺣﺮﻗﻮﻫﻤﺎ ﺑﺎﻟﻨﺎﺭ ﺛﻢ ﻗﺎﻝ ﺣﻴﻦ ﺃﺭﺩﻧﺎ ﺍﻟﺨﺮﻭﺝ ﺇﻧﻲ ﻛﻨﺖ ﺃﻣﺮﺗﻜﻢ ﺃﻥ ﺗﺤﺮﻗﻮﺍ ﻓﻼﻧًﺎ ﻭﻓﻼﻧًﺎ ﻭﺇﻥ ﺍﻟﻨﺎﺭ ﻻ ﻳﻌﺬﺏ ﺑﻬﺎ ﺇﻻ ﺍﻟﻠّﻪ ﻓﺈﻥ ﻭﺟﺪﺗﻤﻮﻫﻤﺎ ﻓﺎﻗﺘﻠﻮﻫﻤﺎ”‏ ‏[ ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺣﻤﺪ ﻭﺍﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﻭﺍﻟﺘﺮﻣﺬﻱ ‏] .
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengirim kami dalam rombongan, terus beliau berkata: “Bila kalian mendapatkan si fulan dan si fulan, kepada dua orang pria, maka bakarlah keduanya dengan api”, kemudian beliau di saat kamu hendak keluar berkata lagi: “Sesungguhnya aku telah memerintahkan kalian untuk membakar si fulan dan si fulan, dan sesungguhnya api itu tidak menyiksa dengannya kecuali Allah, bila kalian mendapatkan keduanya maka bunuhlah.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Al Bukhariy, Abu Dawud dan At Tirmidziy)
Asy Syaukaniy rahimahullah berkata: “Sabdanya: “dan sesungguhnya api itu tidak menyiksa dengannya kecuali Allah” adalah berita dengan makna larangan, dan salaf telah berselisih dalam masalah pembakaran ini, di mana Umar, Ibnu ‘Abbas dan yang lain membenci hal itu secara muthlaq baik dalam sebab kekafiran atau pada kondisi peperangan atau pada qishash, dan Ali, Khalid Ibnul Walid serta yang lainnya membolehkan hal itu”
Di dalam Kitab Al Hudud Nailul Authar: “Al Baihaqiy telah meriwayatkan juga dari Abu Bakar bahwa beliau mengumpulkan orang-orang untuk membahas seorang pria yang digauli sebagaimana ia menggauli wanita, maka beliau bertanya kepada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal itu, maka orang yang paling keras pendapatnya saat itu adalah Ali Ibnu Abi Thalib ‘alaihissalam di mana ia berkata: “Ini adalah dosa yang tidak pernah dilakukan oleh siapapun kecuali satu umat saja yang mana Allah telah memberikan hukuman kepada mereka dengan hukuman yang telah kalian ketahui, kami memandang agar dia itu dibakar dengan api”, maka para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersepakat untuk membakarnya dengan api, maka Abu Bakar menulis surat kepada Khalid Ibnul Walid memerintahkannya untuk membakarnya dengan api”.
Asy Syaukaniy berkata: “Di dalam Isnadnya ada irsal, dan ia diriwayatkan dari jalur lain dari Ja’far Ibnu Muhammad dari ayahnya dari Ali di dalam kisah ini, berkata: dia dirajam dan dibakar dengan api.”
Bukankah ucapannya: “…maka para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersepakat untuk membakarnya dengan api…” itu adalah dalil yang menunjukkan bahwa tidak ada ijma terhadap pelarangan membakar…!!!
Dan ada di dalam Nailul Authar juga, seraya menukil dari Al Mundziriy:“Kaum homo dibakar dengan api oleh Abu Bakar, Ali dan Abdullah ibnu Az Zubair juga Hisyam ibnu Abdul Malik”
Dan di dalam Fathul Baariy, Al Muhallab berkata: “Ini bukan larangan yang menunjukkan pengharaman, akan tetapi dalam rangka tawadlu’, di mana kebolehan membakar itu telah ditunjukkan oleh tindakan para sahabat, dan Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam sendiri telah menyongkel mata orang-orang Uraniyyin dengan besi panas, Abu Bakar juga telah membakar para pemberontak dengan api di hadapan para sahabat, Khalid Ibnul Walid telah membakar sejumlah orang murtad dengan api, dan mayoritas ulamna Madinah membolehkan pembakaran benteng dan kapal berikut para penumpangnya, ini dikatakan oleh An Nawawaiy dan Al Auza’iy”
Di dalam Aunul Ma’bud, Al Qasthalaniy berkata: “Salaf telah berselisih dalam masalah pembakaran ini, di mana Umar, Ibnu ‘Abbas dan yang lain membenci hal itu secara muthlaq baik dalam sebab kekafiran atau pada kondisi peperangan atau pada qishash, dan Ali, Khalid Ibnul Walid serta yang lainnya membolehkan hal itu”.
Saya katakan: Ini bila orang-orang kafir tidak melakukan hal ini kepada kaum muslimin, adapun bila mereka melakukannya maka masalahnya berbeda.
Masalah ini adalah tergolong masalah yang diperselisihkan oleh sahabat dan salaful ummah, Shiddiq umat ini dan Al Khalifah Ar Rasyid Ali Ibnu Abi Thalib serta sejumlah sahabat telah melakukannya, sehingga tidak ada ijma di dalam masalah ini sebagaimana yang diklaim oleh sebagian orang.
Sesungguhnya apa yang dilakukan mujahidin di Fallujah adalah setetes di tengah lautan apa yang dilakukan Amerika sejak bertahun-tahun di Iraq, akan tetapi kita sudah terbiasa untuk tidak mendengar suara orang-orang itu kecuali bila ada seorang Amerika mati, adapun bila kaum muslimin dibunuh dan digilas dengan tank-tank serta dibakar dengan roket-roket dan rudal-rudal maka semua diam seribu bahasa!
Saya katakan kepada mujahidin di Iraq:
“Bila kalian membakar, maka kalian memiliki pendahulu dari kalangan khalifah umat ini dan para sahabat Nabi kalian, maka lakukanlah terhadap orang-orang kafir itu apa saja yang bisa menanamkan pada hati mereka rasa takut dan teror, dan jangan sampai mereka melihat pada diri kalian sikap pengecut, rasa takut dan bimbang. Lakukan teror kepada mereka dan goncangkan bumi di bawah kaki mereka dan rebutlah hati mereka dari dada mereka supaya hati kaum mu’minin marasa senang”.
Adapun kaitan tawanan Jepang; maka jepang dengan sikap bantuannya pada Amerika itu telah menjadi Negara Harbiyyah yang sama statusnya dengan Inggris, Spanyol, Australia dan negara lainnya, dan dia-lah yang telah aniaya pada dirinya sendiri, padahal kaum muslimin sudah memberikan peringatan kepadanya namun ia tidak mau mendengar, sehingga para mujahidin boleh membunuh tawanan mereka dan memenggal kepala mereka, dan jangan dihiraukan klaim orang yang mengatakan bahwa tawanan itu adalah warga sipil, karena istilah ini tidak ada di dalam syariat ini, akan tetapi ia adalah istilah orang Barat yang masuk ke tangah umat ini, maka setiap individu laki-laki Jepang yang kafir lagi mampu berperang, maka ia itu boleh dibunuh dan dirampas uangnya…
Adapun wanita tawanan Jepang; maka saya tidak mengetahui ada ulama yang membolehkan membunuhnya bila dia itu tidak memerangi atau punya peran serta dalam memerangi kaum muslimin -seperti menjadi mata-mata atau punya ide atau hal lainnya-, akan tetapi ia itu menjadi sabaya, bila mujahidin ingin menjadikannya sebagai hamba-sahaya maka boleh atau ingin menukarnya dengan tawanan lain juga boleh atau dengan selain tawanan atau melepaskannya tanpa kompensasi apapun -sesuai perbedaan pendapat prihal kebolehan membebaskan begitu saja dengan sebab telah menjadi sabaya-.
Para mujahidin bisa menakar mashalahat dan mafsadah yang diakibatkan dari membunuh orang-orang Jepang itu, dan bila mereka memilih membunuhnya maka hendaknya mereka menjelaskan kepada manusia sebab hal itu dan hendaklah mereka mencela pemerintah Jepang yang telah menceburkan bala tentaranya di dalam peperangan yang mereka tidak punya urusan di dalamnya, untuk memusuhi umat Islam yang tidak pernah mengganggu mereka, di mana bala tentara yang berkoalisi itu membunuhi anak-anak bangsa Iraq dan membakar kepala-kepala mereka (dengan bom), sedangkan balasan itu sejenis dengan perbuatan…!!!
Bila mujahidin memilih untuk membunuh orang-orang jepang itu, hendaknya membunuh dengan pedang atau dengan cara lainnya yang cepat, demi keluar dari perselisihan, dan hendaklah berbuat baik dalam membunuh.
Sesungguhnya Amerika itu tidak mungkin berani lancang kepada umat Islam bila ia mengetahui bahwa pada umat ini ada pihak yang akan memberikan pembalasan berlipat, karena ia mengetahui bahwa ia itu menginvasi kita dan kita tidak menginvasinya, ia membunuh kita dan kita tidak membunuhnya, serta ia menghancurkan rumah-rumah kita sedang kita tidak berani terhadapnya, ia datang dengan segala perlengkapan perangnya untuk menduduki negeri-negeri kita, memperkosa kehormatan-kehormatan kita, menjarah harta-harta kita dan memerangi kita karena dien yang kita anut.
Demi Allah seandainya Pedang Allah Khalid Ibnul Walid hidup, tentu ia mati karena kedongkolan terhadap realita yang dialami mayoritas kaum pria umat ini yang tidak cakap berbuat kecuali menangis dan menunggu kematian di rumah.
Orang-orang kafir tidak akan keluar dari negeri-negeri kaum muslimin kecuali dengan pembunuhan, penteroran dan penebaran rasa takut terhadap mereka, sebagaimana yang terjadi di Afghanistan dan Somalia.
__________________________
Diambil dari tulisan Syaikh Husen Ibnu Mahmud, tapi tidak semuanya diterjemahkan, karena hanya saya terjemahkan materi yang berkaitan dengan masalah pembakaran saja (Pent.), dan Bagi yang mau lengkap silahkan buka ini: justpaste.it/j8bh
Selesai diterjemahkan:
Abu Sulaiman 
www.millahibrahim.wordpress.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS